Tulisan pada Blog Dosen IESP FE-UNJA (3)

Dampak Liberalisasi Perdagangan Terhadap Neraca Perdagangan Negara Berkembang

Abstract

This research intends to explore the impact of tariff elimination on Indonesian Trade Balance. The GTAP model was used as the main tool of analysis. The findings show that: Firstly, the elimination of tariff barrier will result on a decrease in a large part of Indonesian exports either for agricultural export or for manufactured expor. Eventhough there are some comodities still experiencing an increase in export, as a whole this policy will demage the Indonesian strategic comodities, (2) Secondly, the elimination of tariff barrier will resut on an increase in a large part of Indonesian import. Again, as a whole Indonesia will get loose because a large part of those comodities employ a huge number of labours. Thirdly, the elimination of tariff barrier will cause a deficit on some comodities trade balance. Based on these results, Indonesian government should consider the trade elimination policy carefully.

Keywords: WTO, international trade, GTAP model

I. PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang

Liberalisasi perdagangan telah menjadi suatu istilah yang populer sejak dua dasa warsa terakhir. Keberhasilan negara-negara barat terutama Amerika Serikat dan Uni Eropa dalam meningkat kinerja ekonomi mereka telah mendorong negara berkembang untuk mengikuti dan mencontoh kebijakan liberalisasi yang diterapkan oleh kedua negara tersebut. Fakta menunjukkan bahwa saat ini hampir semua negara telah menerapkan liberalisasi perdagangan. Indikasi ini salah satunya  terlihat dari proporsi ekspor terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) setiap negara (Tabel 1.)

Lanjutkan

Persepsi Pekerja terhadap Ketimpangan Gender

I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Meningkatnya kesempatan pendidikan dan status perempuan telah ber-dampak pada peningkatan partisipasi perem¬puan dalam dunia kerja. Namun, hal ini ternyata diwarnai adanya ketimpangan gender, dalam bentuk segmentasi pasar tenaga kerja yang menempatkan laki-laki pada pekerjaan-pekerjaan utama, dan perempuan pada pekerjaan-pekerjaan sekunder.
Teori neo-klasik menjelaskan, segmentasi pasar tenaga kerja terjadi sebagai akibat perbedaan karak¬teristik individu (human capital) yang mempengaruhi produkti¬vitas, dimana human capital pekerja perempuan lebih rendah dari pekerja laki-laki. Rendahnya human capital (pendidikan, umur dan pengala¬man kerja) pekerja perempuan ini, secara umum telah dibuktikan dari hasil penelitian Hardiani (1997) pada salah satu perusahaan industri kayu di Jambi. Namun, setelah dilakukan pengontrolan dengan berbagai karak¬teristik yang mempengaruhi produktivitas, ketimpangan gender antara pekerja laki-laki dan perempuan tetap terlihat nyata. Hal ini berarti bahwa terjadinya segmentasi pasar tenaga kerja tidak dapat dijelaskan melalui teori neo-klasik.

Lanjutkan

Diferensiasi Upah Berdasarkan Gender

Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa terdapat perbedaan upah yang besar antara pekerja laki-laki dan perempuan, baik di negara maju maupun negara sedang berkembang. Perbedaan tersebut juga terlihat bila ditin­jau pada masing-masing jenis/lapangan pekerjaan. Di Amerika Serikat pada tahun 1984, rata-rata upah pekerja perempuan adalah 63  persen dari pekerja laki-laki (Ehrenberg dan Smith,1988 ). Walaupun lima tahun kemudian (1989) rata-rata pendapatan pekerja perempuan telah meningkat pesat, namun rata-rata pendapatannya masih 72  persen dari pendapatan laki-laki. Namun demikian terda­pat pola yang menarik dari perbedaan upah ini jika dikontrol dengan umur. Ditemukan bahwa perbedaan upah ini akan semakin besar dengan semakin tuanya umur. Pada pekerja usia muda (16-24 tahun), median upah perempuan adalah 90  persen terhadap upah laki-laki, sedangkan pada pekerja usia lebih tua perbedaan upah tersebut menjadi 77 persen.

Lanjutkan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Upah

Menurut Nakamura, dkk (1979), ada dua kelompok faktor yang mempengaruhi upah yang diterima pekerja, yaitu: 1) Karakteristik individu. 2) Karakteristik dari pasar tenaga kerja. Penelitian pada tingkat mikro, umumnya berfokus pada faktor karakteristik individu, sedangkan pada tingkat makro lebih memperhatikan hubungan karakteristik pasar kerja  terhadap tingkat upah.

Penelitian yang dilakukan oleh Ehreinberg, dan Smith (1988 )  dengan bersumber pada data Biro Sensus Amerika tahun 1984 menemukan 2 hal, yaitu: 1) semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi tingkat upah. 2) Perbedaan dalam tingkat upah ini semakin besar pada pekerja-pekerja yang lebih tua. Hal ini disebabkan oleh kemampuan belajar pekerja yang berpendidikan lebih tinggi relatif lebih baik, sehingga pada masa kerja yang sama pengalaman bekerja yang lebih tinggi juga akan lebih baik.  Dengan demikian, secara nyata pengalaman kerja juga berpengaruh positif terhadap tingkat upah.

Lanjutkan

Ini adalah halaman keempat. Lihat halaman pertama, kedua, ketiga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: