Jambi, 24 Maret 2010

I. DASAR PEMIKIRAN

1.1. Pertumbuhan Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja

  • Selama kurun waktu tahun 2005-2009, pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata 5,54 persen per tahun. Angka pertumbuhan tersebut masih di bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan dalam RPJMN 2004-2009 yakni sebesar 7,2 persen per tahun (Bappenas, 2009). Namun pertumbuhan ekonomi yang terjadi belum dapat secara optimal menciptakan lapangan kerja karena lebih banyak terjadi pada sektor-sektor yang tidak banyak menyerap tenaga kerja. Hingga tahun 2009 tingkat pengangguran terbuka masih terdapat sebanyak 9,26 juta orang atau sekitar 8,1%.
  • Dari sisi penawaran, sektor yang memberikan kontribusi tinggi adalah sektor transportasi-komunikasi (16,20 persen) dan listrik, gas dan air bersih (11,43 persen). Sedangkan pertumbuhan sektor yang menyerap tenaga kerja lebih banyak seperti pertanian, perternakan, kehutanan dan perikanan, mengalami pertumbuhan rata-rata hanya 3,52  persen per tahun. Demikian pula dengan sektor konstruksi yang mengalami pertumbuhan, rata-rata sebesar 7,70 persen per tahun dengan kecenderungan menurun (BPS, 2009).
  • Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan pengeluaran pemeritah. Sementara peranan investasi dan ekspor-impor secara drastis menurun. Investasi tahunan Indonesia telah mengalami penurunan yang tajam dari 12,1 persen pada tahun 2008 menjadi hanya 3,4 persen pada tahun 2009.  Penurunan pertumbuhan investasi ini secara proporsional diikuti oleh penurunan investasi rill (rill investment) yang mengakibatkan penyerapan tenaga kerja menurun. Penurunan ekspor jauh lebih tajam, yakni dari 10 persen pada tahun 2008 menjadi -16,7 persen pada tahun 2009 (Patunru, 2009) sebagai dampak dari terjadinya krisis finansial sejak akhir tahun 2008.
  • Pertumbuhan ekonomi secara nasional pada hakekatnya merupakan resultan dari pertumbuhan ekonomi di tingkat daerah. Pola pertumbuhan ekonomi terutama di daerah-daerah, sebagian besar bertumpukan pada eksploitasi sumber daya alam secara ekspansif dan ekstraktif, sehingga terjadi degradasi lingkungan dan kerusakan sistem penyangga kehidupan yang mengakibatkan modal alam berkurang dan terjadinya bencana alam.
  • Seperti halnya perekonomian Provinsi Jambi yang dewasa ini  tumbuh mengesankan 7,16 persen, namun tingkat kemiskinan masih relatif tinggi sekitar 8,12 persen yang harus dibayar mahal dengan semakin seringnya terjadi bencana banjir yang berdampak kepada menurunnya kesejahteraan masyarakat.

1.1. Perekonomian Indonesia dari Perspektif Eksternal

  • Terdapat beberapa tantangan dan masalah mendasar: (a) kompetisi produk Indonesia menurun, karena kehadiran dua raksasa ekonomi dunia utamanya Cina dan India meningkat pesat memproduksi barang yang sama dengan harga yang lebih murah dan kualitas yang lebih baik telah menggeser posisi Indonesia (b) adanya perubahan-perubahan preferensi konsumsi di negara-negara tujuan ekspor seperti ”green products” dan faktor lain (c) variasi produksi yang diekspor Indonesia jenisnya terlalu kecil dan kondisi ini sangat rentan terhadap gejolak ekonomi dunia.
  • Tantangan besar yang akan dihadapi adalah diberlakukannya hasil perjanjian Free Trade Asean (FTA) – Cina 2010 dan negara-negara Asean lain. Dengan tingkat tarif yang berlaku pada saat ini, perdagangan Indonesia menunjukkan penurunan apalagi dengan ”free trade” Asean (dimana intra trade tidak dilakukan secara intensif lagi setelah lebih 25 tahun). Salah satu masalah ekonomi Asean sangat ”fragmented” dan kurang aktifnya perdagangan antara satu negara dengan negara lain, melainkan lebih intensifnya perdagangan keluar Asean pada pasar tradisionalnya masing-masing. Selama ini Asean tidak dapat menciptakan ”Sizeable Asean Economy” atau ”Bigger Asean Economic Size” sehingga tidak ada daya tarik aliran modal (investasi) seperti Cina atau India.
  • Perubahan iklim telah terjadi di Indonesia dimana suhu rata-rata di Indonesia akan meningkat sebesar 0,03 derajat celsius/year dan presipitasi curah hujan meningkat 2-3 persen per tahun (IPCC, 2007). Hal ini memerlukan adapatasi dan mitigasi perubahan iklim yang mempengaruhi pola kegiatan penghidupan masyarakat miskin, khususnya dibidang pertanian, perikanan dan masyarakat miskin yang tinggal disekitar hutan. Dalam berbagai daerah, pola perubahan iklim ini sangat mempengaruhi pola kegiatan ekonomi. Untuk itu upaya-upaya mitigasi dan adaptasi lingkungan di daerah-daerah yang rawan terhadap dampak perubahan iklim serta upaya-upaya dalam rangka pengarusutamaan perubahan iklim ke seluruh sektor pembangunan (cross cutting) perlu dikembangkan agar masyarakat tetap hidup serasi dengan lingkungannya

1.1. Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia

  • Hingga tahun 2009, jumlah penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan terdapat sebanyak 32,63 juta jiwa atau 14,15 persen dari total penduduk Indonesia. Mereka yang tinggal dipedesaan mencapai 20,62 juta atau 63,4 persen dari total penduduk miskin (Patunru, 2009) dimana 65,5 persen dari mereka terlibat dalam kegiatan pertanian skala kecil (ADB, IDB & ILO, 2009). Sedangkan penduduk miskin di perkotaan terdapat sebanyak 11,91 juta atau 36,4 persen dari total penduduk miskin. Mereka ini melakukan migrasi dari desa ke kota, yang kemudian melembagakan kemiskinan kota (urban poor) yang terkumpul dalam sektor informal.
  • Program penanggulangan kemiskinan di Indonesia secara garis besar bertumpu pada 3 (tiga) program, yaitu: program penanggulangan kemiskinan berbasis bantuan dan perlindungan sosial; program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat; dan program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan usaha ekonomi mikro dan kecil.
  • Namun dari pelaksanaan program tersebut, masih banyak hal yang memerlukan penguatan lebih lanjut untuk mengupayakan penurunan yang lebih signifikan jumlah angka penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah  (RPJM) tahun 2010-2014, ditargetkan  penurunan persentase jumlah orang miskin dalam kurun waktu lima tahun kedepan menurun dari 14,2 persen menjadi 8-10 persen.

Dari uraian di atas, penurunan jumlah orang miskin di Indonesia selama kurun waktu lima tahun terakhir belum memenuhi target, terdapat banyak permasalahan yang dihadapi, salah satu yang utama adalah pertumbuhan ekonomi yang dicapai belum optimal di mana disamping nominalnya yang relatif rendah juga karena polanya yang tidak banyak menyediakan lapangan kerja, serta mempraktekkan ekonomi ekspansif dan ekstraktif yang menimbulkan kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

II. TUJUAN

Seminar nasional ini bertujuan untuk:

  1. Meningkatkan pemahaman para peserta seminar tentang konsep pentingnya pertumbuhan ekonomi yang berkualitas di tengah terjadinya perubahan iklim.
  2. Menjadi pendorong bagi seluruh elemen untuk berperan aktif upaya mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan mengurangi angka kemiskinan
  3. Sebagai ajang promosi dan publikasi hasil-hasil penelitian yang beskala nasional khususnya yang dilakukan oleh dosen Fakultas Ekonomi Universitas Jambi yang terkait dengan kajian mengenai peningkatan pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan

III. BENTUK KEGIATAN

Kegiatan ini berbentuk Seminar Sehari dalam skala Nasional. Dalam kegiatan ini akan menampilkan keynote speaker nasional, serta diskusi panel para akademisi/peneliti yang melakukan penelitian berkaitan dengan tema seminar ini

IV. PELAKSANA KEGIATAN

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Jambi di bawah koordinasi Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP). Selanjutnya dalam pelaksanaannya, dibentuk panitia pelaksana dengan keanggotaan yang terdiri dari staf pengajar jurusan IESP FE-UNJA dengan dibantu oleh tenaga administrasi di tingkat fakultas dan jurusan.

V. WAKTU PELAKSANAAN

Waktu pelaksanaan direncanakan pada tanggal 24 Maret 2010, bertempat di Aula Rektorat Universitas Jambi.

VI.  PEMBICARA

Keynote Speaker

  1. Prof. Dr. Emil Salim (Emeretus Profesor Economic Faculty University of Indonesia)

Pembicara. Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Jambi yang melakukan penelitian berskala nasional:

  1. Prof. Dr. H. M. Rachmad R, S.E., M.S
  2. Prof. Aulia Tasman, S.E., M. Sc., Ph. D
  3. DR. Sihol Situngkir, SE, M.BA
  4. DR. M. Syurya Hidayat, S.E., M.S
  5. Dr. Muhammad Ridwansyah, SE., M.Sc
  6. Dr. Armandelis, SE ME
  7. Dr. Syaparrudin, S.E., M.S

Pembicara. Peneliti/praktisi dari Luar Universitas Jambi yang melakukan penelitian berskala nasional:

  1. Pimpinan Bank Indonesia/ Bank Indonesia Jambi
  2. Dr. Michael Stuwe (Adviser WWF US)
  3. Ms. Yumiko (Konsultan WWF US)
  4. Dr. Erwin Widodo (Direktur WWF Indonesia untuk Sumatera Inisiatif)

VII.  KONTRIBUSI PESERTA

Peserta dikenakan kontribusi sebesar Rp 100.000 (Seratus Ribu Rupiah) sebagai pengganti seminar kit, snack/makan siang dan sertifikat.

Agenda kegiatan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: