Analisis Persepsi Pekerja Terhadap Ketimpangan Gender (Kasus Perusahaan Industri Kayu di Propinsi Jambi)

Dipublikasikan pada Jurnal Manajemen dan Pembangunan Vol.2 No.2 Tahun 2003

Oleh : Hardiani

ABSTRAK. Penelitian ini menemukan ketimpangan gender yang terjadi menye-babkan terbatasnya wilayah kerja perempuan terutama pada pekerjaan yang hanya membutuhkan ketekunan dan ketelitian tinggi, serta peluang jabatan yang relatif terbatas pada posisi jabatan terendah. Dari sisi upah, secara umum tidak terdapat perbedaan yang nyata antara pekerja laki-laki dan perempuan. Namun, hanya berlaku pada tingkat “human capital” yang lebih tinggi. Pada tingkat “human capital” rendah, secara nyata upah laki-laki lebih tinggi dibandingkan perem¬puan. Ketimpangan gender telah merugikan posisi pe-rempuan, namun perempuan tetap bertahan dalam pasar kerja. Pekerja perempuan tidak merasa ketimpangan gender merugikan posisi mereka, karena beranggapan kemampuan mereka terbatas untuk mencapai posisi yang lebih baik.
—————————————————————————————-

I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Meningkatnya kesempatan pendidikan dan status perempuan telah ber-dampak pada peningkatan partisipasi perem¬puan dalam dunia kerja. Namun, hal ini ternyata diwarnai adanya ketimpangan gender, dalam bentuk segmentasi pasar tenaga kerja yang menempatkan laki-laki pada pekerjaan-pekerjaan utama, dan perempuan pada pekerjaan-pekerjaan sekunder.
Teori neo-klasik menjelaskan, segmentasi pasar tenaga kerja terjadi sebagai akibat perbedaan karak¬teristik individu (human capital) yang mempengaruhi produkti¬vitas, dimana human capital pekerja perempuan lebih rendah dari pekerja laki-laki. Rendahnya human capital (pendidikan, umur dan pengala¬man kerja) pekerja perempuan ini, secara umum telah dibuktikan dari hasil penelitian Hardiani (1997) pada salah satu perusahaan industri kayu di Jambi. Namun, setelah dilakukan pengontrolan dengan berbagai karak¬teristik yang mempengaruhi produktivitas, ketimpangan gender antara pekerja laki-laki dan perempuan tetap terlihat nyata. Hal ini berarti bahwa terjadinya segmentasi pasar tenaga kerja tidak dapat dijelaskan melalui teori neo-klasik.
Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dengan menggunakan pendekatan yang berbeda, yaitu teori feminis aliran liberal. Menurut teori ini, sistem sosial yang ada telah menempatkan perempuan pada kedudukan yang lebih rendah dari laki-laki. Proses sosialisasi yang cenderung mensosialisasikan perempuan dengan kegiatan-kegiatan domestik dan sifat-sifat kewanitaan, menyebabkan terjadinya proses identifikasi pekerjaan-pekerjaan publik yang sesuai dengan sifat perempuan (Collins, 1991).
Menghapuskan ketimpangan gender tidak dapat dipisahkan dari upaya mendekonstruksi hubungan gender dalam masyarakat, melalui penyada¬ran baik kepada laki-laki maupun perempuan bahwa ketimpangan gender yang terjadi bukanlah merupakan suatu takdir/kenyataan yang tidak dapat dihilangkan. Dalam rangka dekonstruksi, khusus-nya dalam dunia kerja, diperlu¬kan informasi bentuk ketimpangan gender yang terjadi serta bagaimana konstruksi sosial mewarnai per¬sepsi pekerja terhadap ketimpangan gender.
1.2. Tujuan Penelitian
a. Menganalisis bentuk ketimpangan gender yang mencakup segregasi pekerjaan, peluang karir dan upah
b. Menganalisis persepsi pekerja perempuan dan laki-laki terhadap bentuk-bentuk ketim-pangan gender yang terjadi.
1.3. Manfaat Penelitian
a. Dari sisi praktis, diharapkan bermanfaat bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan peningkatan persa¬maan kedudukan laki-laki dan perempuan serta kesejahteraan perempuan dalam dunia kerja.
b. Dari sisi akademis, bermanfaat sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Terdapat tiga teori dasar dalam menjelaskan fenomena diferensiasi gender, yaitu teori neo-klasik, teori segmentasi pasar tenaga kerja dan teori feminis. Namun, penelitian ini menggunakan teori feminis aliran liberal.
Pendekatan feminis liberal memandang subordinasi perempuan berakar pada kendala dan kebiasaan budaya yang meng¬hambat akses perempuan terhadap kesempatan berkompetisi secara adil dengan laki-laki (Saptari, 1997). Perempuan disosialisasikan pada kegiatan-kegiatan domestik dan sifat-sifat kewanitaan seperti sekretaris, resepsionis dan wait¬res. Perbedaan perempuan dan laki-laki yang telah disosialisasikan dalam keluarga kemudian terefleksi dalam kecenderungan pekerjaan menerima perintah bagi perempuan dan memberi perintah bagi pekerjaan laki-laki (Collins, 1991).
Terkait dengan hal ini, terdapat dua pola segregasi dalam pekerjaan. Secara horizontal, perempuan tersegregasi pada pekerjaan berstatus rendah. Pekerjaan sektor modern lebih banyak ditempati oleh laki-laki, sedangkan sektor tradi¬sional oleh perem-puan. Menurut Papanek (1985) maskulinisasi dan feminisasi tenaga kerja ini terkait dengan lebih banyaknya pilihan pekerjaan yang dimiliki laki-laki dibandingkan perempuan. Secara vertical, terlihat dari monopoli laki-laki pada fungsi-fungsi dengan kewenangan yang luas, tingkat pengawasan yang tinggi serta kondisi kerja yang lebih baik (Humphrey, 1985).
Terbentuknya perbedaan peranan antara perempuan dan laki- laki, dimana wilayah kekuasaan perempuan di dalam rumah dan laki-laki di luar rumah menurut (Berger dan Luckmann,1976) dapat dilihat dari dua perspektif: Pertama, konstruksi sosial sebagai proses awal pembedaan bidang domestik dan bidang publik, baik melalui proses eksternalisasi, objektivikasi maupun internalisasi. Kedua, Reproduksi Sosial, yaitu penguatan perbedaan bidang domestik dan publik, baik melalui simbol-simbol, reproduksi status biologis perem-puan, maupun reproduksi status kultural perempuan.
Pekerjaan-pekerjaan marginal yang dikerjakan oleh perem¬puan dapat dilihat sebagai akibat dari proses identifikasi perempuan terhadap apa-apa yang sesuai dengan sifat kewanitaan seperti yang sudah dikonstruksikan secara sosial. Keterlibatan dalam kegiatan ekonomi yang marginal merupakan hasil dari suatu proses interaksi dan negoisasi di mana perempuan sendiri aktif di dalamnya. Dalam perspektif semacam ini kemudian ketimpangan gender tidak lain merupakan pilihan perempuan, bukan pemaksaan terhadap perempuan. Astuti (1997) mengemukakan banyak kaum perempuan yang menerima ketidakadilan jender tersebut dengan wajar karena merupakan suatu takdir.
Akibat sikap yang menerima keadaan ini, struktur sosial yang timpang ini akhirnya tidak hanya dimitoskan laki-laki, tetapi perempuan. Hal tersebut juga berlaku pada perempuan yang memiliki akses kekuasaan yang lebih tinggi. Kelompok perempuan sering menem¬patkan perempuan sebagai subordinat.
Mitos yang membentuk persepsi terhadap suatu objek dipengaruhi oleh faktor internal (dalam diri individu) maupun eksternal (lingkungan luar in¬dividu). Dalam konteks persepsi perempuan terhadap ketimpangan gender, sulit memi-sahkan pengaruh kedua faktor tersebut. Menurut Abdullah (1996) manusia memberi arti dan interpretasi terhadap perbedaan biologis laki-laki dan perempuan, yang kemudian menciptakan struktur sosial dengan pembagian hak dan kewajiban secara seksual. Ini kemudian menjadi realitas objektif. Berger (1991) dalam Abdullah (1996), mengemukakan setiap orang diperkenalkan pada makna budaya, belajar ikut serta dalam tugas-tugas yang sudah ditetapkan dan menerima peran dan identitas-identitas yang membentuk struktur sosialnya.

III. METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan pada salah satu perusahaan industri kayu di Propinsi Jambi yaitu PT. Putra Sumber Utama Timber (PSUT). Populasi penelitian adalah seluruh pekerja pabrik di PT. PSUT. Jumlah sampel diambil sebanyak 50 pekerja, dengan cara proporsional random sampling berdasarkan jenis kelamin dan bidang pekerjaan. Untuk mendukung analisis, juga ditetapkan responden atasan langsung dari pekerja sampel.
Data yang dikumpulkan yaitu data primer dan sekunder. Data sekunder dikumpulkan dari administrasi perusahaan, mencakup struktur organisasi, kondisi dan fasilitas kerja, bidang kerja termasuk sifat dan fungsinya.
Data primer dikumpulkan melalui: Pertama, cara survai pada semua responden (laki-laki dan perem¬puan), yang dibantu dengan kuesioner. Kedua wawan¬cara mendalam melibatkan seorang pekerja laki-laki dan seorang pekerja perempuan untuk setiap bidang pekerjaan, serta atasan langsung pekerja.
Untuk menganalisis bentuk ketimpangan gender pekerja dilakukan secara deskriptif dengan menyajikan tabel-tabel frekuensi. Bentuk ketimpangan gender pekerja dilihat dari tiga aspek yaitu: a) Segregasi pekerjaan yang dianalisis melalui sifat pekerjaan yang ditempati pekerja laki-laki dan perempuan. b) Peluang jabatan/karir, dianalisis dari jabatan- jabatan yang ditempati oleh pekerja laki-laki dan perempuan dan analisis riwayat mutasi kerja pekerja sampel, dan c) Diskriminasi upah/gaji, dianali¬sis menggunakan uji beda (uji z atau t dengan tingkat signifikansi 90 persen) antara upah pekerja laki-laki dan perempuan, dengan pengontrolan terhadap karakteristik individu.
Untuk menganalisis persepsi pekerja dan atasan terhadap ketimpangan gender, dilakukan analisis deskriptif-kualitatif yang mengkaitkan jawaban responden dengan bentuk ketimpangan gender yang terjadi.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Analisis Segregasi Pekerjaan
Terdapat lima pola penempatan pekerja berdasarkan jenis kelamin di berbagai seksi kerja yang ada di PT.PSUT sebagai berikut.
a. Bidang pekerjaan yang hanya dilakukan laki-laki adalah bagian log pond, log cutting, rotary, cold press, hot press dan bengkel. Pekerjaan-pekerjaan ini terutama membutuhkan kemampuan/keah¬lian penggunaan mesin serta tenaga yang kuat dalam pengatu¬ran input/bahan yang akan diolah oleh mesin.
b. Bidang pekerjaan yang hanya dilakukan oleh perempuan, yaitu bidang M.K. Pada bidang ini jenis pekerjaan yang terutama adalah memberi lem potongan-potongan kayu. Sifat pekerjaan tidak membutuhkan tenaga yang kuat tetapi membutuhkan ketekunan dan ketelitian, sehingga semua bagian pembentuk produk terpoles perekat dengan baik.
c. Bidang pekerjaan yang lebih banyak dilakukan laki-laki dari pada perempuan: 1). Packing dan gudang. Laki-laki bertugas mengepak dan mengangkat barang ke gudang penyimpanan. Sedangkan perempuan memberikan tanda pengenal produksi (stempel) produk dan 2). Inspeksi yaitu mengawasi kebersihan dan kenyamanan lingkungan kerja. Pekerjaan ini memerlukan keberanian dan wibawa pekerja, terutama dalam memberikan peringatan kepada pekerja yang mengabaikan kebersihan dan kenyamanan lingkungan kerja.
d. Bidang pekerjaan yang lebih banyak dilakukan perempuan dari pada laki-laki adalah bidang compuser back, core compuser, pace back, glue sp, putty dan assembling. Sifat bidang pekerjaan ini terutama membutuhkan ketekunan, kete¬litian, kesabaran serta tidak memerlukan keahlian khusus.
e. Bidang pekerjaan dengan jumlah pekerja hampir sama banyak antara perempuan dengan laki-laki adalah bidang dryer, sizer, sander dan quality control. Walaupun terdapat perimbangan jumlah pekerja laki-laki dan perempuan, namun demikian masih terdapat pembagian kerja yang tegas antara kedua kelompok pekerja tersebut. Pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan mesin dan membutuhkan tenaga yang kuat, merupakan pekerjaan laki-laki, sedangkan untuk perempuan adalah sebaliknya.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa dalam penempatan kerja, terdapat segresi bidang pekerjaan. Pekerja laki-laki cenderung ditempatkan pada pekerjaan yang berhubungan dengan mesin dan yang membutuhkan tenaga fisik lebih kuat. Sebaliknya pekerja perem-puan cenderung untuk ditempatkan pada pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan ketekunan yang tinggi.
4.2. Peluang Jabatan/Karir
Terdapat beberapa tingkat jabatan di pabrik, mulai dari manajer produksi, asisten manajer, pimpinan shift, kepala seksi, asisten kepala seksi (askasi), dan kepala kerja. Semua jabatan tersebut ditempati oleh pekerja laki-laki, sedangkan posisi jabatan yang secara bersama-sama di isi oleh pekerja laki-laki dan perempuan adalah pada jabatan Askasi, dan kepala kerja.
Jabatan askasi dan kepala kerja memang telah ditempati perempuan, namun proporsinya juga relatif kecil. Hanya 2 orang askasi perempuan dari 29 askasi, dan hanya 9 orang kepala kerja perempuan dari 229 kepala kerja.
Struktur organisasi garis yang dianut oleh perusahaan mencerminkan semakin tinggi jabatan, tingkat kewe¬nangan dan pengawasan juga semakin luas, serta kondisi kerja (fasi-litas maupun tunjangan) semakin baik. Berdasarkan hal tersebut, terlihat bahwa kesempatan pekerja perempuan untuk mendapatkan jabatan dengan tingkat kewenangan, tingkat pengawasan dan kondisi kerja yang lebih baik adalah relatif lebih terbatas dibandingkan laki-laki.
Dalam kebijakan terhadap tenaga kerjanya, perusahaan antara lain melakukan mutasi. Dari riwayat muta¬si, laki-laki lebih sering mendapatkannya dibandingkan perempuan, dimana proporsi untuk laki-laki 44 persen dan perempuan 35 persen.
Mutasi terdiri dari mutasi pada bidang pekerjaan dengan kondisi kerja yang lebih baik, serta mutasi pada bidang pekerjaan dengan kondisi kerja yang tetap sama. Berdasarkan jenis kelamin, ternya¬ta di samping relatif kecilnya frekuensi mutasi pada perem¬puan, jenis mutasi yang dialaminya juga kurang menggembirakan. Hampir sepertiga (28,57 persen) responden perempuan menyatakan mendapatkan mutasi pada bidang pekerjaan dengan kondisi kerja yang sama. Sedang¬kan untuk laki-laki, proporsi tersebut hanya 9,09 persen.
Keadaan ini menunjukkan bahwa perusahaan memberikan peluang yang lebih banyak bagi laki-laki terhadap jenis peker¬jaan dalam perusahaan, sehingga laki-laki lebih banyak yang dimutasikan daripada pekerja perempuan.

4.3. Diskriminasi Upah/Gaji
Secara rata-rata upah perem¬puan adalah 92,2 persen dari laki-laki. Per-bedaan ini relatif kecil dan tidak nyata secara statistik berdasarkan uji beda rata-rata. Oleh karenanya, pengujian berikut dilakukan untuk melihat apakah hal tersebut juga terjadi jika dikontrol dengan karakteristik pekerja.
a. Diferensiasi Berdasarkan Umur
Upah laki-laki maupun perempuan menunjukkan peningkatan bersamaan dengan peningkatan umur. Namun, peningkatan upah laki-laki lebih rendah dibandingkan peningka-tan upah perempuan. Hal ini menyebabkan, walaupun pada umur-umur muda (24 tahun ke bawah) rata-rata upah laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan, namun pada pada kelompok umur lebih tua (25 tahun ke atas), rata-rata upah perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Pada umur 24 tahun ke bawah, upah perempuan 90,26 persen dari laki-laki. Namun pada umur 25 tahun ke atas upah perempuan mencapai 105,60 persen dari upah laki-laki.
Namun, dari uji beda rata-rata didapatkan pada kelompok umur 24 tahun ke bawah terdapat perbe¬daan yang signifikan secara statistik, sedangkan pada kelompok umur 25 tahun ke atas tidak signifikan. Ini berarti bahwa pada umur-umur muda laki-laki menerima upah lebih tinggi dibanding¬kan perempuan. Sebaliknya pada umur-umur tua tidak terdapat perbedaan yang nyata.
b. Diferensiasi Berdasarkan Pendidikan
Pada berbagai jenjang pendidikan upah laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Namun, perbedaan upah yang nyata secara statistik hanya terdapat pada jenjang pendidikan SLP ke bawah. Artinya, pada tingkat pendidikan SLTA ke atas upah pekerja laki-laki dan perempuan adalah relatif berimbang.
c. Diferensiasi Berdasarkan Pengalaman Kerja
Upah laki-laki maupun perempuan menunjukkan peningkatan bersamaan dengan peningkatan masa kerja, namun peningkatan upah laki-laki lebih rendah dibandingkan peningka¬tan upah perempuan. Ini menyebabkan, jika pada masa kerja kurang dari 1,5 tahun, rata-rata upah perempuan hanya 88,92 persen dari laki-laki, maka pada masa kerja 1,5 tahun atau lebih, upah perempuan mencapai 105,60 persen dibandingkan laki-laki.
Namun melalui uji beda, ternyata yang berbeda secara signifikan hanyalah untuk pekerja dengan masa kerja kurang dari 1,5 tahun, sedangkan untuk yang bermasa kerja 1,5 tahun lebih tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
4.4. Persepsi Terhadap Ketimpangan Gender
a. Persepsi terhadap Segregasi Pekerjaan
Adanya segregasi pekerjaan yang membedakan pekerjaan-pekerjaan laki-laki dan perempuan memang diakui oleh lebih dari separuh (56 persen) pekerja. Namun, ketika dianalisis lebih mendalam, hanya kurang dari separuh (45 persen) perem¬puan yang mengakuinya. Sebaliknya untuk laki-laki, proporsi tersebut mencapai hampir dua-pertiga bagian (63,33 persen).
Hal ini menunjukkan bahwa bagi perempuan, keadaan yang terjadi adalah keadaan yang harus diterima dan sesuai dengan kodrat yang membedakan laki-laki dan perempuan. 65 persen pekerja perempuan beranggapan penempatannya pada bidang kerja selama ini sesuai dengan keinginan dan kemampuannya.
Pekerja laki-laki wajar ditempatkan pada bidang yang berhubungan dengan mesin, karena ketidakmampun perempuan men¬guasai teknologi. Proporsi perempuan yang menyetujui hal tersebut bahkan lebih besar dibandingkan laki-laki (perempuan mencapai 60 persen sedangkan laki-laki sebesar 50 persen).
Berdasarkan anggapan tersebut, hampir semua pekerja perempuan (92,5 persen) mengemukakan pendidikan yang paling tepat untuk laki-laki adalah di bidang teknik/mesin dan perempuan di bidang ketrampilan terutama ketram¬pilan rumah tangga. Walaupun laki-laki juga menyatakan hal yang sama, namun kecenderungannya relatif lebih rendah yaitu hanya 78,33 persen.
Pekerja laki-laki juga wajar ditempatkan pada pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan fisik yang kuat, hal ini disetujui oleh semua pekerja. Sebaliknya peker¬ja perempuan wajar ditempatkan pada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan ketekunan, karena dari sisi ini perempuan lebih unggul. Hal tersebut disetujui oleh 73,33 persen laki-laki, dan 85 persen perempuan.
b. Persepsi terhadap Peluang Jabatan/Karir
Peluang jabatan pekerja perempuan relatif lebih terbatas dibandingkan laki-laki, namun hal tersebut hampir tidak dirasa¬kan pekerja. 95 persen pekerja laki-laki dan 83 persen pekerja perempuan tidak merasakan adanya fenomena tersebut. Kenyataan lain yang ditemukan, walaupun relatif besar proporsi perempuan yang mendapatkan mutasi tanpa perbaikan kondisi kerja dibandingkan laki-laki, namun demikian semua perempuan menyatakan puas atas mutasi kerja yang didapatkan¬nya. Pekerja perempuan juga berpendapat bahwa kurang pantas perempuan menjadi atasan jika sebagian besar bawahannya laki-laki. Hampir separuh (45 persen) pekerja perempuan menyata¬kan hal tersebut, sedangkan proporsi laki-laki hanya 16,67 persen.
Penguatan kredibilitas atasan laki-laki ini tidak hanya didukung oleh pekerja laki-laki, tetapi juga oleh perempuan. Hal ini terlihat dari berimbangnya proporsi responden laki-laki dan perempuan yang menyenangi atasan laki-laki (83,33 persen untuk laki-laki, dan 85 persen untuk perempuan).
c. Persepsi terhadap Diskriminasi Upah/Gaji
Analisis terdahulu memperlihatkan secara umum tidak terdapat perbedaan upah antara pekerja laki-laki dan perem¬puan. Hal ini juga diakui hampir semua responden (82 persen).
Namun demikian, hanya sekitar sepertiga (34 persen) pekerja yang menyatakan puas terhadap penghasilannya. Sebaliknya, sekitar dua pertiga lainnya (66 persen) kurang/tidak puas. Penyebab ketidakpuasan tersebut karena penghasilannya dirasakan tidak mencukupi kebutuhan hidup
Proporsi laki-laki yang kurang/tidak puas lebih besar dibandingkan perempuan (laki-laki 73,33 persen, sedangkan perempuan 65 persen). Fenomena ini pada dasarnya berkaitan dengan persepsi pencari nafkah utama dalam keluarga. Semua pekerja (laki-laki maupun perempuan) menyatakan bahwa pencari nafkah utama keluarga seharusnya adalah bapak/suami dan penghasilan ibu/istri hanya sebagai penambah penda¬patan keluarga. Lebih separuh (53,33 persen) laki-laki menyatakannya. Bahkan hal tersebut lebih dikuatkan oleh perempuan dengan proporsi yang menyetujuinya mencapai 85 persen.
5. Kesimpulan dan Saran
5.1. Kesimpulan
Penelitian ini menemukan ketimpangan gender yang terjadi mengambil bentuk pada: a). tersegregasinya bidang pekerjaan, yang menempatkan perempuan pada wilayah kerja yang lebih terbatas terutama yang hanya membutuhkan ketekunan dan ketelitian tinggi, dan b). peluang jabatan/karir perempuan yang relatif terbatas dan hanya pada posisi jabatan terendah.
Penelitian ini tidak menemukan perbe¬daan yang nyata dari upah laki-laki dan perempuan. Namun, dari pengontrolan dengan karakteristik individu menunjukkan pada tingkat “human capital” yang rendah (umur muda, pendidikan dan masa kerja rendah), secara signifikan upah laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Sebaliknya pada tingkat “human capi¬tal” yang lebih tinggi (umur lebih tua, pendidikan dan masa kerja tinggi), tidak terdapat perbedaan nyata upah laki-laki dan perempuan.
Terdapatnya ketimpangan gender di dunia kerja telah meru¬gikan posisi perempuan, namun perempuan tetap bertahan dalam pasar kerja. Fenomena ini dapat dijelaskan dari persepsi perempuan itu sendiri. Pekerja perempuan tidak merasakan ketimpangan gender merugikan posisi mereka, karena mereka beranggapan bahwa memang adanya keterbatasan kemampuan untuk mencapai posisi yang lebih baik. Selain itu, orientasi keterlibatan mereka dalam dunia kerja lebih bersifat temporer (mengisi waktu), peningkatan status (dari tidak bekerja menjadi bekerja), serta penambah pendapatan keluarga ketika laki-laki dalam keluarga belum mampu memenuhi kebutuhan keluarga.
5.2. Saran
Berbagai upaya dalam bentuk perundang-undangan/peraturan-peraturan maupun konvensi yang dibuat untuk menjamin hak-hak perempuan dalam dunia kerja, tidak akan berhasil jika tidak diikuti oleh perubahan dalam konstruksi sosial. Oleh karenanya harus diadakan dekonstruksi hubungan gender dan reorientasi pemahaman seksualitas, yang melibatkan semua pihak yang tercakup dalam proses kon¬struksi sosial. Dekonstruksi tersebut dapat dilakukan melalui jalur sosialisasi, penyuluhan, dan pendidikan mulai dari tingkat keluarga sampai pada tingkat masyarakat yang lebih luas.

6. Daftar Pustaka
Abdullah,I,1996, “Seks,Gender dan Reproduksi Kekuasaan”, dalam Dwiyanto,A, dkk,(eds) Penduduk dan Pembangunan, Yogyakar¬ta,Aditya Media dan PPK-UGM

Astuti,M,1997,”Jender dan Pembangunan”, disampaikan pada Penataran Metodologi Penelitian Kajian Wanita Berperspektif Jender. Hotel Sri Wedari Yogyakarta, 7-13 September 1997

Berger,P. dan Luckmann,T,1976, The Social Construction of Reality, London: Penguin Press

Collins,R. 1991. “Women and Men in The Class Structure”, dalam Blumberg,R.L (ed), dalam Gender, Family and Economy: The Triple Overlap, London: Sage Publications.

Dexter, C.R., 1985. “Women and The Execise of Power in Organi¬sation: From Ascribed to Achieved Status” dalam Larwood, L et.al (eds), Women and Work: An Anual Review, Vol. 1 California: Sage Publication.

Hardiani, 1997. Tingkat Upah dan Diferensiasi Gender Pekerja Pada Perusahaan Industri Kayu PT. PSUT di Propinsi Jambi. Thesis.

Humphrey,J. 1985. “Gender, Pay and Skill: Manual Workers in Brazilian Industry” dalam Afshar, H (ed), Women, Work and Ideology in The Third World, New York: Tavistock Publica¬tions.

Papanek, H. 1985. “Low-Income Countries” dalam Farley J., Women workers in Fifteen Countries: Essays in Honor of Alice Cook, Itacha: Cornel University.

Saptari,R, 1997. “Studi Perempuan: Sebuah Pengantar”, dalam Saptari,R. dan Holzner (eds), Perempuan, Kerja dan Peru¬bahan Sosial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: